JAKARTA - Empat dari 12 proyek untuk mendukung konektivitas negara-negara di kawasan Asia Tenggara akan dibangun di Indonesia. Proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari percepatan pembangunan infrastruktur untuk mendukung konektivitas Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
Pembangunan proyek konektivitas ASEAN merupakan salah satu kesepakatan dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 ASEAN di Jakarta yang berakhir Minggu (8/5) lalu.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan, ada 12 proyek infrastruktur yang akan dibangun di 10 negara ASEAN untuk mendukung konektivitas tersebut.
”Ada 12 infrastruktur proyek dalam (masterplan konektivitas) ASEAN, empat di Indonesia. Satunya power plan (pembangkit listrik) menghubungkan Sumatera dengan Malaka,” kata Hatta di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.
Kedua terkait dengan power grid, serta pembangkit listrik dengan Malaysia di Sanggau, Sarawak. Selain itu, pembangunan jalan-jalan di wilayah perbatasan serta jalan tol di Bitung, Sulawesi Utara.
Mantan menteri perhubungan tersebut mengungkapkan, 12 proyek infrastruktur yang masuk masterplan ASEAN tersebut juga merupakan bagian dari BIMP (Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina) Niaga.
BIMP Niaga merupakan kerja sama sub-ASEAN yang melibatkan beberapa negara di kawasan ASEAN. Untuk jalan di perbatasan, Hatta mengatakan bahwa Indonesia akan membangun dua jalan yang panjangnya masing-masing 80 km dan 76 km. ”Keduanya ini dibiayai oleh Asian Development Bank (ADB),” ujarnya.
Dari semua proyek yang telah dirancang, pembangkit listrik di Sanggau dan Sarawak diharapkan selesai tahun ini. Sementara itu, pemerintah memastikan ASEAN Infrastructure Fund akan mulai beroperasi pada 2012. Hingga saat ini, negara-negara ASEAN telah mengumpulkan anggaran sebesar USD480 juta.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, pembentukan ASEAN Infrastructure Fund diharapkan bisa mewujudkan konektivitas 10 negara di kawasan ASEAN.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, ASEAN Infrastructure Fund ini sudah disepakati negara-negara ASEAN karena setiap negara membutuhkan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur, namun hingga kini masih menunggu diluncurkan. ”Ini kan sudah kesepakatan tinggal di-launching,” katanya.
Dikatakan Bambang, dana yang disetorkan masing-masing negara di ASEAN telah ditetapkan sesuai dengan kemampuan negaranya. Indonesia termasuk negara paling besar kedua dalam kontribusinya, setelah Malaysia,dan ADB sendiri menjadi nomor tiga terbesar. Malaysia menyumbang USD150 juta, Indonesia USD120 juta, dan ADB sekira USD120 juta-USD150 juta.
Di sisi lain, Perdana Menteri Laos Thoongsing Thammavong mengajak pengusaha Indonesia untuk melirik investasi di negara mereka. Investasi yang ditawarkan adalah bidang energi dan pembangunan infrastruktur. Tawaran tersebut disampaikan Thoongsing saat mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka kemarin.
Pembangunan proyek konektivitas ASEAN merupakan salah satu kesepakatan dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 ASEAN di Jakarta yang berakhir Minggu (8/5) lalu.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan, ada 12 proyek infrastruktur yang akan dibangun di 10 negara ASEAN untuk mendukung konektivitas tersebut.
”Ada 12 infrastruktur proyek dalam (masterplan konektivitas) ASEAN, empat di Indonesia. Satunya power plan (pembangkit listrik) menghubungkan Sumatera dengan Malaka,” kata Hatta di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.
Kedua terkait dengan power grid, serta pembangkit listrik dengan Malaysia di Sanggau, Sarawak. Selain itu, pembangunan jalan-jalan di wilayah perbatasan serta jalan tol di Bitung, Sulawesi Utara.
Mantan menteri perhubungan tersebut mengungkapkan, 12 proyek infrastruktur yang masuk masterplan ASEAN tersebut juga merupakan bagian dari BIMP (Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina) Niaga.
BIMP Niaga merupakan kerja sama sub-ASEAN yang melibatkan beberapa negara di kawasan ASEAN. Untuk jalan di perbatasan, Hatta mengatakan bahwa Indonesia akan membangun dua jalan yang panjangnya masing-masing 80 km dan 76 km. ”Keduanya ini dibiayai oleh Asian Development Bank (ADB),” ujarnya.
Dari semua proyek yang telah dirancang, pembangkit listrik di Sanggau dan Sarawak diharapkan selesai tahun ini. Sementara itu, pemerintah memastikan ASEAN Infrastructure Fund akan mulai beroperasi pada 2012. Hingga saat ini, negara-negara ASEAN telah mengumpulkan anggaran sebesar USD480 juta.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, pembentukan ASEAN Infrastructure Fund diharapkan bisa mewujudkan konektivitas 10 negara di kawasan ASEAN.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, ASEAN Infrastructure Fund ini sudah disepakati negara-negara ASEAN karena setiap negara membutuhkan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur, namun hingga kini masih menunggu diluncurkan. ”Ini kan sudah kesepakatan tinggal di-launching,” katanya.
Dikatakan Bambang, dana yang disetorkan masing-masing negara di ASEAN telah ditetapkan sesuai dengan kemampuan negaranya. Indonesia termasuk negara paling besar kedua dalam kontribusinya, setelah Malaysia,dan ADB sendiri menjadi nomor tiga terbesar. Malaysia menyumbang USD150 juta, Indonesia USD120 juta, dan ADB sekira USD120 juta-USD150 juta.
Di sisi lain, Perdana Menteri Laos Thoongsing Thammavong mengajak pengusaha Indonesia untuk melirik investasi di negara mereka. Investasi yang ditawarkan adalah bidang energi dan pembangunan infrastruktur. Tawaran tersebut disampaikan Thoongsing saat mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka kemarin.
08.59
FIQIH TABAH .A.
Posted in: 




0 comments:
by Pakto
by misterdarvus
Posting Komentar